Sabtu, 22 Agustus 2015

Ruang Aksara - lesuh menghantamku

lesuh menghantam...
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Mungkin tak sedikit insan memahami tentang gambaran kelas.
Manusia konsumtif bermuka polos dipasar

bukan kebaikan yang murni yang telah ditanamkan.
ketetapan yang dibuat untuk menentukan kepribadian.
Suatu kelas yang dibentuk oleh kelas yang bersuara lantang.
Kejenuhan hati ini kian hari menjadi gelora kesakitan hati.
Terlempar oleh polemik yang dibentuk oleh kelompoknya sendiri.
Entah apa, tetapi ku melihat jelas meski terbendung suatu historis.
Ku pastikan, kelas itu akan musnah bila kesadaran kaumnya bersua.
Tak sepantasnya ku biarkan historis menjadi alat kekuasaan individu.
Biarlah orang berkata tidak, oleh ungkapan ini.
Tetapi kan ku teguhkan oleh kesadaran yang akan membuka hatinya.
dan aku begini bukan karena individu, melaikan muakku kepada pola itu.
Hamparan kesadaran pula akan secara natural membentuk suatu sejarah.
Sejarah bukanlah terbentuk dengan sendirinya.
sejarah perlu dorongan agar tampilan sistem itu dapat dibaca oleh publik.
dan aku meyakini, publik akan bersorak kencang menjadi satu merobohkan dinding KAPITALISME.
Semoga TUHAN setuju...
(07,februari,2012)

Ruang Aksara - Rintihan kalbu.

Rintihan kalbu.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Ruang kelabu ini adalah aku
Gelap tidak mampu mengungkap rindu
Panasnya membakar hangus
kering Tenggorokan jiwaku

Pantaskah aku berlabuh
Untuk merindukan-Mu
Pantaskah busukku untuk dimaafkan
Atas apa yang telah ku goreskan.

Aku malu... Aku seperti jiwa tanpa roh
Aku bersembunyi kepada ketiak duniawi
Aku takut... Aku lemah tanpa sayang-Mu
Tetapi seperti tiada pantas untukku dicintai
Maka izinkan aku menjemput semangat pagi
Untuk menjemput makna cintaku

Ampunilah aku, Wahai Sang Maha Merajai
Atas apa yang jiwa ini lakukan
Cacat dipenuhi oleh goresan luka
Yang penuh dengan kesalahan dan dosa
Hanya kepadamu aku kembali
Engkau Yang Maha Penyayang
Dan Hanya Kepada-Mu aku Berserah diri
(23-Oktober-2015.Jombang-Jatim)

Ruang Aksara - Melatiku

Melatiku
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Putih berlambang Ke-sucian
harum dengan senyuman
Sejuk raga memandangnya
Begitu lembut kasih sayang
Dan namanya mengukir keindahan.

Semerbah senyuman itu, tak sanggup ku lupakan
mengundang kenyamanan
Dengan tatapan ayu
lunglai mata memandangnya.

Ooh...Melatiku
tersimpan wangimu didalam ingatanku
dan kini menggebu menjadi rindu.

tentangmu
Tidak akan ku biarkan menjadi semu
tidak akan ku biarkan nafsu membelenggu.

Oh bungaku
tunggu aku sampai saatnya tiba, 
 Akan ku jemput dikau menjadi dewiku
menjadi sepasang kehidupan hingga ajal menjemput
Dan abadi berada di Surga-Nya.

Ruang Aksara - Bingkai palsu

Bingkai Palsu
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Terpampang didalam ruang tamu
Kilauan indah menatap muka
Indah, ia menyembunyikan luka
Semu menjadi kekosongan tanya.

Masa itu telah musnah
Kelabu bingkai berdebu
Risih penuh luka
Panorama indahannya kebohongan.

Elokkah ia terpampang
Rintihannya jelas terasa
Menjadi hiasan dinding berdebu
Ia bingkai pemandangan palsu.
(agustus.2015)

Ruang Aksara - bakar dan buang bukumu, bila

Bakar dan buang bukumu, bila
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Diantara kalian...
Bakar dan buang buku-buku yang
kau baca itu !!!
Bakar didalam jiwamu
Agar raga merasakan hangatnya
Sehingga suatu konsep menyatu dengan prilaku
Dan tidak hanya menyampah otak-pikiran.

Apa artinya selusin ide
Dan ribuan konsep serupa berlian
Yang hanya rimbun pada otak-pikiran?
Tiadalah arti semua itu,
Berlumut, menjamur, dan berkarat.

Buang sajalah,
buang jauh-jauh bila buku membelenggu
Mengungkung menutup jendela perbaikan
Hingga kau buta arti perbedaan.

Etika-humanisme ataupun estetika-tatasurya.
Apa artinya sebuah ilmu itu
Pengetahuan dan teknologipun, tiadalah arti
bila realitasnya mengutuk pri-kemanusiaan
Dan meng-eksploitasi alamsmesta.

Expresikan... Dan katakan kepada dunia
Semua itu salah dan tidak harus disalahkan?
(agustus.2015)

puisi_Simpatis

Simpatis
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Setidaknya kita mendang
wajah kering yang terlukis dijalanan
Dan sedikit kita merasakan
wajah sunyi dipedesaan
Janganlah diam
Acuh meninggikan dagu.

Memandanglah dengan kasih
Merasakan hangatnya mentari
Anyep menampar hati
Hingga berbunga rasa simpatik

Jangan sampai buta memanipulasi nurani
dan tuli atas eksploitasi
Hingga yang bernyawa nafsu duniawi
Menari diatas punggung derita
Lalai saudaranya mati tercekik kemiskinan
(agustus.2015)

puisi - Cinta terlarang...

Cinta terlarang...
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Bisa kah lalui kelabu.
Tentang pandang yang menjadi rasa.
Didalam ruang jurang asmara.
Menjebak tersungkur didalam rindu.

Meski tuan membakar asmara.
Api itu akan menjadi cinta.
Meskipunterbakar menjadi abu.
Rasa tetap mencintai cinta.

Meski cinta ini terlarang.
Biarkan darah ini menyatu.
Meski tuan melaknat rindu.
Cinta tetap berseru memujamu.
(Agustus.2015)

puisi - hati pecundang

Hati pecundang
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh


Penuh murka, mengitari sanubari angkasa
Hiruk pikuk, sesal ketidak puasan jiwa
Tentang borok, yang menjamur dilubuk hati
Tentang jiwa, yang hangus terbakar dusta


Hari terselimuti karak keserakahan
Semakin suram semakin gelap
Peradaban hanya milik tuan
Yang lain bila diperlukan


Saling acuh bila ada korban
Gotong royong bila menguntungkan
Tidak peduli kawan seperjuangan
Bermuka dewa hatinya pecundang
(agustus.2015)

puisi - Percayalah

Percayalah
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Biarlah...
Biar penderitaan ini ada.
Biarlah...
Biar khianat menjadi makna.
Biarlah...
Biar kebenaran menjadi tawa.
Biarlah...
Biar debu membutakan jiwa.

Tatkala waktu telah tiba.
Entah peduliku kepada kematian.
Aku jengkel Pe-manipulasi arti.
Aku sudah menjadi api.

Percayalah...
Orang gila ini setia.
Berdiri teguh pada Trisakti.
Yang terlahir dari Pancasila.
Yang bulat dalam Ekasila.

Percayalah...
Ketulusan kan terukir pada sejarah.
Meski mati tiadalah sia-sia.
Demi Nusantara dan Ampera.
Sekali Merdeka tetaplah Merdeka.

puisi_Adinda...

Adinda...
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Adinda, jika kau beranjak aku ikhlas
Karena tujuanku bukan untuk merampas
Adinda, jika berharap lebih bukanlah aku
Karena aku pun tak mempunyai berlian
Aku hanya sebatang badan yang kesepian

Adinda...
Jika aku adalah senjamu
Lekas jemput fajarmu
Jika aku adalah kegelapan
Lekas jemput cahayamu

Aku percaya bahagia prihal rasa hati
Yang tidak dapat dipaksakan.

Bila kau menginginkan limpahan harta
Aku hanya setitik bintang dari kejauhan.

Begitu pula,
aku percaya dengan adanya hari esok
Dimana aku siap untuk kau usir pergi.

Adinda, aku tidak ingin menjadi sangkarmu
Adinda, aku tidak ingin merenggut kebiasaanmu
Adinda, lupakan aku jemput sayap bahagiamu
Adinda, terbanglah bebas dengan indahnya karyamu

Adinda, aku mencintaimu
(september,22,2015)

Puisi - Kawan - tak bosan

Kawan - tak bosan
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Tawamu kawan ringankan badai
Candamu payungi derasnya hujan
Sepinya malam kau menari
Menari kau dalam imajinasi

Kepingan yang tak pernah terlupakan
Meniduri mentari hingga menjemput senja
Berkelana dalam beceknya jalan malam
Menjemput fajar dengan hangatnya dialektika

Tak pernah bosan
dan selalu memberi pesan
Selalu ku terkesan
dan tak akan terlupakan.

Mari berjuang...
Hari esok milik kita...
Kawan !!!

puisi -Terimakasih kuhaturkan

Terima kasih ku haturkan.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Menangisku
kau buat ku tertawa.

Hancurku,
Kau berikan percikan semangat.

Kelamku,
Kau ajarkan kepadaku memecah sepi.

Suramku,
Kau bahagiakan aku dengan kesabaran.

Bahagiaku dalam menjalani waktu
Tentang laju yang sering terjatuh
Menyentuhku, kau tak mengeluh

Saat senja telah menghampirku
pagi masih sinari dengan semangatmu

Terima kasih atas hadirmu
Terima kasih atas semangatmu
Terima kasih ku haturkan padamu.

Terima Kasih Bunda.

puisi - semoga tumbuh tangguh

Semoga tumbuh tangguh (cuyy_)
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Semoga emosimu terbangunkan
Bersama dengan imajinasi
Terbangun progres karyamu
Dalam menjalani prosesmu

Kata-kata ku hanya untuk mengecoh
Agar terbakar asah pacumu
Lebih kencang dari waktu
Lebih tajam dari pedang

Aku tidak peduli kau anggap setan
Aku tidak peduli kau beranjak menjauh
Aku tidak peduli simpatimu padaku
Yang ku pedulikan hanya buah karyamu

Semoga dirimu tumbuh tangguh
dari pada yang ku perkirakan
Selamat berjuang...
Jangan sia-siakan proses waktu yang kau lewati
Karena kau tidak akan sanggup memutar kembali.

Puisi - Mamah...

Mamah...
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Lembut sapamu membisik rindu.
Hangat doamu adalah selimutku.
Sentuhmu mengajarkan keteguhan kepadaku.
menuntunku menjadi insan yang bijak.

Tentang keyakinan yang kau ajarkan kepadaku.
Tentang prinsip yang kau tanamkan kepadaku.
Tentang pengetahuan tiadalah arti tanpamu.
Tentang ilmu adalah keridhoanmu.

Mamah...
Izinkan kami berbakti menjadi anakmu.
Izinkan kami menjemput cita-cita dengan doamu.
Izinkan kami memuliakanmu.
Izinkan kami meminta ampunan atas namamu.
Izinkan kami bersujud menuju surgaNya.

Mamah...kami rindu.

Puisi_Manusia malang

Manusia malang
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Ku biarkan matahari yang sumbar
Ku sambut malam dengan goresan bintang
Biarkan semua orang bangga dangan kesuksesan
Mereka yang terikat oleh nominal finansial
akan selalu diperbudak oleh nafsunya

Biarkan aku bangga dengan tumpukan persahabatan
yang tak akan pernah terputus oleh waktu
yang selalu erat bersama cinta
dan setia pada perjuangan kaum tertindas.

Terserah kau yang membanggakan puncak
Aku lebih nyaman hidup dengan kebersamaan
Disini ku dapat belajar indahnya kratifitas
Disini ku dapat belajar menghargai sebuah karya

Ia memang malang
tak apalah kau anggap hina
tetapi seutuhnya ia lebih mulia
Karena Ia tidak mencuri
Ia berkarya dengan hati.

Percayalah, kami akan selalu ada
dan tak akan mati
Bersama kaum tertindas.

puisi_Bla... Bla bla... (Ocehan surga)

Bla..bla..bla Celotehan Bermuka dua
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Musim kampanye telah tiba.
Pendongeng berkumpul dialun-alun
dan bermeong dipasar-pasar.

Bercerita tentang kesejahteraan;
Bla..bla..blaa?
Berpidato menjanjikan pangan murah;
Bla..bla..blaa?
Bercerita tentang suguhan pendidikan;
Bla..bla..blaa?
Berpidato menggratiskan kesehatan;
Bla..bla..blaa?

Pilih saya; Bla..bla..blaa 
Saya baik; Bla..bla..blaa
Saya pemimpin ideal; Bla..bla...blaa
Saya berjanji; Bla..bla..blaa

Bla... Bla bla, ocehan beraroma Surga
Si Tokoh bermuka dua
Mulutnya bengis dan lamis
Pada waktunya, ia menghilang?
ia bersembunyi menikmati kemenangan
kemenangan yang olehnya tipu-tipunya.
***

Dan pada saatnya Rakyat menjerit
Bersorak, menagih janji...

Hooy... para pendongen aku memanggilmu...
Aku menagih janjimu !!?!!
Lihatlah, anak-anak terlantar dijalanan
Kakek, Nenek pun juga demikian
Ada yang mengemis
Ada yang berlari-lari
Ada juga, yang...
Berlari-lari, sambil mengemis
Karena diburu gerombolan berseragam garang.

Woy para penjanji dimana mukamu?
Aku menagih janjimu !!?!!
Kesehatanpun semakin mahal
Pendidikan hanya milik tuan bermodal
Dan kami lapar menunggu janjimu
***
Kenapa sunyi?
Tiada yang menyambut pangilanku?

Aku muak !!!
Semua omong kosong !!!!

Kesejahteraan hanya menjadi dongeng rongsokan
Rasa peduli menggunung di Bantargebang
Rakyat Kelaparan hanya menjadi sajian komersil televisi
Simpati hanyalah sensasi muka dua, dalam sandiwara
oh, muramnya Negri ini.

[07052015]


Puisi_Rindu pada bunda...

Rindu pada bunda...
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Terlintas dalam lelapku, bayangan elok senyummu
Riang dalam bahagia, terpaku merindukan bunda

Bunda... Aku malam yang sunyi tanpa doamu.
Bunda... Aku pagi yang bising tanpa doamu.

Kasihmu masih tersimpan rapat didalam batinku.
Yang selalu memberi ketukan, saat lalai
Tutur lembutmu menjadi cahaya disaat ku melangkah
menemani hingga raga ini tumbuh besar.
Aku yang selalu merindukan bunda.
Dan tentangmu selalu menjadi arti penting hidupku.


puisi - Tinta Merah

Tinta Merah
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Kau sebut aku suram.
Kau maknai aku kelam.
Cuma karena warna kulit.
Dan cuma karena jiwaku yang kritis.

Ku berlari mencari tempat sunyi.
Kau olok aku bagaikan setan.
Cuma karena politik kekuasaan generasi menjadi korban.

Ya aku baru tau... Kebenaran hanya milik tuan.
mungkin yang lainnya numpang.

Aku masih menyepi dalam lorong kesunyian.
Karena diluar aku dibuli oleh tuan.

Aku takut adanya penerangan.
Aku bagian dari yang terbuang.
Tinta merah yang bernasib sial.

Ide siapa?
Siapa yang sebenarnya membunuh hak kemanusiaan.
Siapa yang sebenarnya monopoli kemiskinan.
Siapa yang sebenarnya tidak berTuhan.
Siapa yang sebenarnya mengeksploitasi alam.

Realitas ini ide siapa?
yang sebenarnya menghakimi sejarah kemanusiaan.

Aku takut, sampai bernafaspun aku tak sanggup.
Sesak terhakimi bayang-bayang neolib.
Dimana Kapitalisme terlahir seolah kebenaran.
Abad perbudakan telah dimulai.
Hingga tak mengenal arti kawan.
karena keserahakan menjadi mata pencaharian.

Hiraukan aku, karena aku adalah malam yang kau sebut kelam.

puisi_Bangun kawan.

Bangun kawan.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Harta dalam bentuk uang
Kelipatan yang memeras kemiskinan
Aktifitas dalam jurang kegelapan
Nafsu yang membentuk keserakahan

Bukan sekedar perekonomian
Monopoli politik dihalalkan
komoditi arus tujuan
Sejahtera hanya kiasan

Borjuasi sebagai katagori sosial
Liberalisme berada diujung kekuasaan
Rakyat menjadi budak kapitalis
kekuasaan membentuk jurang penindasan

Bangunlah kawan...
Bangun dan lihat kedepan.
Bersualah kawan...
Bersuara dan lakukan perlawanan.
Kami bersama kaum yang tertindas.

puisi - aku melihat malam.

Aku melihat malam.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Aku melihat siang ia berantakan
Sukarku mendengar bising busuk pertikaian
Persaudaraan tak berbaur, saling melempar batu prasangka
Diam-diam lahab seperti hewan yang lapar.

Mengaku manusia, tetapi berpikir tanpa logika
Berhitung aksioma, mengaku hasil dewa
Sok bijaksana, memakan bangkai saudara.

Kenapa kasihan memandang gelapku
aku melihat malam ia kelam
Padahal indah penuh dengan bintang
Ya, aku sadar kehadiran bulan
Menemani malam dengan cahaya persaudaraan.

puisi - Bintik nafsu menguasai.

Bintik nafsu menguasai.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Waktu membuat ia tau tentang apa?
Waktu sebagai pelajaran tentang apa?

Disaat asap menutupi mata hati
Ialah pengetahuan menjadi ruang kegelapan

Terjualnya cinta...
Terbuangnya hakiki...

Bintik-bintik kegelapan yang menguasai
Dari suara-suara bertopeng kebangsaan

Betapa remuknya hati ini
saat manusia saling mencaci maki
Sadarkah tentang semua itu
sejarah mencatat mayat terbuang tak berdosa
Dan mayat itu terbunuh oleh saudaranya.

Dimana cinta didalam hati?
Dimana nurani saling mengasihi?
Kini jurang-jurang kau gali.
Menjadi ranjau kematian saudaramu sendiri.

Saat cinta menjadi gengsi
Tanpa disadari bisikan nafsu menguasai
Kegelapan menguasai jiwa yang gelisah
Tanpa disadari manusia diperbudak nafsu memiliki
[15032015]

Puisi_Bunda menutup mata

Bunda menutup mata
oleh: Giandra Gialang Panggaluh

Aku pernah berpikir kemana arah ini

Sejauh mata memandang, lalai arti dan tujuan

Tentang bunda pertiwi yang semakin tua

Api menjadi duka, kini menjadi abu nestapa

Bunda menangis terpuruk dalam luka


Tak sadar beta lupa arti sebuah pusaka

Semua seakan-akan pergi menjauhi bunda

Semua lupa, hanyut dalam pertikaian dunia

Sampai kapankah bunda menanggung derita

Hingga bunda menutup mata

puisi - aku khilaf

Aku khilaf
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

"Aku khilaf," sembari menatap wajah kebodohan.
Dongeng-dongeng berhamburan dari mulut kemunafikan.
Bernuansa syahdu, beralur pembodohan publik.
Sang penguasa berdongeng jenaka.
Tentang keabadian dan kekuasaan.
Pamflet-pamflet penuh dengan penipuan.
Berisi kata-kata pujaan syetan.
Ambisi menjadi satu nada kekuasaan.

Yang tiada, menjadi ada.
Yang ada, menjadi tiada.

"Sampai kapan?," tanyaku pada tujuan.
Tiada menjawab, terpaan tawa menampar sadarku.
Entah kenapa, api kini meninggalkan abu.
Tak mewarisi api, adanya hanya hamburan abu.

"Aku khilaf," berulang kali menjadi penyesalan.
Menjadi dekil debu dipunggung si pengucap.
Tak bisa dilihat, entah mengapa tak mau meraba.
Percumah di ingatkan, hanya menimbulkan dengung pertikaian.
Tak menjadi akhir perubahan sifat.
Hingga nisan, menjadi hiasan lelap.

Di akhir...
aku berucap dalam doa, "selamat jalan, semoga sampai pada tujuan."

Ruang Aksara - Bangkitlah perempuan-ku !!!

Bangkitlah Perempuan-ku
Oleh: Giandra Gilang panggaluh

Bangkit dari buaian manja
Bangkit dari ketiak lelaki
Kau perempuan anugrah ilahi
Cahaya dalam lorong sunyi

Sejarah telah mencatat arti hadirmu
Emansipasi bukan alasan memanjakanmu
Kemerdekaan juga bagian darimu
Demikian ampera juga dipundakmu

Aku lelaki, dan kau perempuan
Kita sama, sama-sama manusia merdeka !!!
Merdeka dari penindasan !!!
Merdeka dari perbudakan !!!
Merdeka dalam perjuangan !!!

Kau mustika yang tak seharusnya bersembunyi
Ataupun disembunyikan
Bersinarlah... Seterang Matahari
Berkaryalah... Seindah pelangi
Berkibarlah... Bersama kami kaum Lelaki
Laksana MERAH dan PUTIH di Pucuk Tiang Tertinggi Ibu Pertiwi.

Bakitlah Perempuan ku !!!

[BarokahHilmi-08032015]

Ruang Aksara - Menatap nikmat

Menatap nikmat.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Tepat saat fajar menjemput adzan,
hembusan angin mengetuk mata tertanda sambut gulita.
Menahan diri untuk tidak gelap,
beranjak lari menjemput genangan air kolam.

Bermain air dalam kolam,
membasuh menuju makna suci.
Bukan makna segar tertuju,
mungkin sekedar penghalang gelapnya mata hati.

Kini ia menyerukan doa,
nada dalam perbuatan menghadap pada niat.
Bukan harapan suatu kebahagiaan,
melainkan tentang rasa bertanggung jawab atas kewajiban.

Dalam sujudnya ia merasakan nikmatnya cinta
Kesungguhan rasa adalah nikmat suatu kebahagiaan dalam proses kewajiban.
Kata tulus dengan otomatis kan mengukirnya bila niat tertata dalam doa.
Semoga akan sampai pada tujuan, ialah pada jalannya tempat kembali.

"AMiiin..."

[10032015]

Ruang Aksara - Tak berdaya dibuatnya.

Tak berdaya dibuatnya
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Diantara Hempitan Malam, Terbayang Manisnya

Bersenandung Didalam Kalbu, Bisik Rinduku Padanya

Sulit Untuk Ku Menutup Mata

Semakin Larut, Semakin Indah Bayangannya

Ku Tak Berdaya Dibuatnya.

Hingga Fajar Tergores Dilangit-subuh
Terasa Melekat
Berlirik Hangat
Bernada Syahdu
Berirama Rindu.

Oh Malam... Sampaikan Rinduku Kepadanya
Sebagai Bisikan Rindu

Sebagai Teman Dalam Mimpinya
Hingga Subuh Membangunkanku...

Ruang Aksara - Cahaya bukan simbol

Cahaya bukan simbol
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Ia bukan simbol dari cahaya, ia benar-benar cahaya.
Maka jadikan ia cahaya, jadikan ia diantara cahaya, bukan sekedar simbol cahaya.

kemana? kemana arah ku melangkah dalam lorong yang gelap ini.
kesendirian dalam gelapan pengetahuan menyusuri realitas waktu.
Semakin jauh, waktu semakin menipu ialah kehancuran abadi.

Jauh tak menyadari adanya diri sendiri.
Merasa paling benar atas kebijakan teori.
Merasa tinggi saat ada dipuncak kematian.
Tak layak kan terbuang sia-sia.

Semakin lama, semakin aku tak menyadari.
Semakin dalam, semakin gelap menyusuri.

Berlari, menjauh semakin jauh, semakin terbuang, semakin sia-sia.

Simbol-simbol kini bergentayangan.
Semakin hari semakin menjadi.
Sulap cahaya menatap mata.
Ialah antara simbol-simbol menjadi permusuhan abadi.

Lupa, semakin lupa diri ini, menari-nari atas penderitaan sesamanya.
Jangan berikan kami pengetahuan, jika itu hanya menjadi kerusakan.
Menjadi kegelapan, yang semakin lupa diri ini dari diri sendiri.

Tetapi, aku tidak bisa menjadikan putih menutupi hitam, bila hidup itu sebuah pilihan.
Harapanku hanya satu,
jangan jauhkan kami dari Cahayamu
[15032015]

Ruang Aksara - Manja

Manja
oleh: Giandra G.P

Makan minta disuapin
Di timang-timang, ayunan ber-uang
Di manja-manja, serba instan
Dewasa tak mengenal susah
Tua, jurang didepan mata

Merasa benar tak bersalah
Rohnya besar menjadi dewa
Hatinya keras tak bernyawa
Luntur nurani, tanpa tenggang rasa

Semakin sempit, jiwa terhimpit
Linu, keram kaki melangkah
Tangannya kaku, tak beretika
Karena Sudah terbiasa dimanja
Lupa sebagai makhluk bernyawa
Hingga maut menjemput sadarnya

Ruang Aksara - Kawanku dan keberaniannya

Kawanku dan keberaniannya
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Entah apa itu kehendak jiwa
bersuara merdu memicu asmara
perlahan tapi pasti adanya
mengendap menjadi busuk baunya

Setidaknya dia sudah berani mengungkapkan
Kebenaran yang terpendam didasar hatinya.
Entah apa hasilnya?
Bukan tujuan utama.

Kini dia harus beranjak
Tanpa menyesali apa itu rasa
Karena Rasa adalah tanda kehidupan
Rahmat Tuhan untuk manusia.

Selamat berproses kawan.
Kini dia lebih terang dari hari-hari sebelumnya.
Melangkahkan niat dan menjalani lorong masa depannya,
karena itu tujuan utamanya...

Aku kagum menatap keberaniaanmu...
Wahai Kawanku, lanjutkan langkahmu

Ruang Aksara - Memandang bulan ku merindu.

Memandang bulan ku merindu.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Bukan dari mana datangnya?
Aku lebih suka menjemputnya.
Memperjuangkan rasa saat menjaga rindu.
Tegar menjalani masa gulita.
Setia meski bulan acuh padaku.
Bulan tetaplah bersama rinduku.

Malam dan rintikan hujan.
Malam tanpa sinar rembulan.
Rembulan masih ada ditempatnya.
Seperti aku dan rindu.
Senyumnya berada ditempat yang sama.
Berbungah, sepajang nyawaku.

Seolah-olah aku gila.
Tergila-gila dalam tawa.
Tertawa dalam rindu.
Saat ku memandang bulan diangkasa.
Imajiku melayang, terbang ketinggian angkasa.

Pandangku pada bulan.
Pantulan senyum bersayap kehidupan.
Membuat spirit laju menggebu.
Se akan tak ada hal mustahil didepanku.

Aku masih berada ditempat yang sama.
Jangan pergi bulanku.
Aku takut malamku gelap.
Aku takut tersandung tanpamu.
Yakinkan aku untuk menyimpan senyummu itu.
Agar aku mampu menerangi gelapku.
Senyummu, ialah cahaya, laju, asah, cita-citaku

Ruang Aksara - Andai kata.

Andai kata.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Semakin lelah badan ini,
pudar oleh tajamnya uang,
senyum hanya menjadi kiasan,
kepentingan sudah menjadi daging,
hingga aku melupakan arti kawan,
hingga aku menindih kemanusiaan.

Aku lupa arti perdamaian,
yang teringat hanya ambisi.
Aku  menabrak idealisme,
yang ku fahami kini hanya bertahan atau mati.

Hahahaa...
Tak lelahkah kakiku melangkah menuju semu?
Merobek tangis asah jiwa nurani...
Menginjak duri-duri kenikmatan duniawi.
Meleleh asam nikmat kebersamaan.
Yang tersisa tai kucing kenikmatan senja.

Andai kata...
Sejenak...memandang kaca dalam bayangan refleksi.
Mendengarkan...Suara hati dengan jiwa menunduk.
Mendekap...memeluk persekawanan dalam arti murni.
Kan terasa hangatnya cinta dalam arti kebersamaan.
Oooh andai kata...

Ruang Aksara - Waktu yang menentukan.

Waktu yang menentukan.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh.

Merajut memang tak mudah.
Berangkat dari halaman rumah.
Lusuh ditampar cemohan tetangga.
Tersudut oleh tajamnya mata.

"Itu hal biasa..."
Dari yang bermuka sinis.
Ataupun mencaci dengan ludah.

"Itu hal lumrah..."
Terkadang dianggap gila.
Ataupun dipandang sebelah mata.
Hingga berdiri tanpa muka.

"Terserah lah, itu semua indah."
Semua bagian dari dinamika.
Ku pastikan jiwa ini bahagia.
Semua boleh asyik menilai.
Biarkan jiwa ini yang memulai.
Hingga waktu yang menentukan.

Aku dan pencapaian, semoga sampai pada tujuan.
Tanpa lupa dari mana aku berawal.

Ruang Aksara - Cerminan

Cerminan
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Siapa dia?
Mungkin dia adalah aku, gambaran dari prilaku ini.
Dan mungkin dia pantulan dari kondisi di sekitarku.
Bernyanyi,
berdendang,
bertengkar,
tanpa berpikir arti.

Saat ku memandang kebaikan,
semua itu penglihatanku.
Saat ku memandang keburukan,
itu juga hasil penglihatanku.
Mata memandang sebagai refleksi.
Lukisan alam sekitar cerminan hidupku.

Disaat banyak kerusakan,
itu gambaranku.
Disaat marak kebobrokan,
itu pantulanku.
Dunia tempatku berpijak,
bagian dariku.

Aku aku i, aku merasa bersalah.
Aku aku i, aku harus bertanggung jawab.
Bukan malah diam, seolah sepi.
Sewajarnya aku mempunyai malu.
Berserakan sampah dikota, melintas tanpa memungut.
Busuknya kota, busuknya penghuni kota itu.
Termasuk aku !!!

Apa gunanya nafas ini?
Tersimpan dalam lemari es.
Membeku, dingin membisu.
Dingin, angkuhnya prilaku.
Sombong, seolah tak mau tau.

Kenapa aku harus malu mengoreksi mukaku sendiri?
Aku tak akan pernah tau wajah ini.
Dan sebelum nafasku terhenti.
Semoga aku tidak membusuk seperti sampah itu.

Ruang Aksara - Nadaku pahit

Nadaku pahit
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Setidaknya aku cuma ingin menyentuh hatimu.

Lewat ketulusan aku bernada arogan.

Entah pahit kau kunyah dalam hati.

Hingga kau memutahkan semua penyakit jiwa.

Harapku hanya ingin kau sehat.

sanggup menatap masa depan dengan tulus.

Dan kelak menjadi arti...

Ruang Aksara - Manismu.

Manismu.
oleh : Giandra Gilang Panggaluh

Rintik hujan basahi kehidupan.
Senyum manismu menyejukkan jiwaku.
Sinar bulan temani malam.
ku ingin kau temani rinduku.
Kehidupan dalam batin jiwaku.
tersimpan rapat tentang dirimu.
Yang tumbuh... mengakar Kesetiaan.
Ku sayang dan selalu ku jaga.
Tak ada waktu yang berhenti.
Terus mengalir dari hulu ke hilir.
Memupuk satu pohon cinta.
Tumbuh subur dalam hatiku.

Malam biarlah berlalu.
Ku ingin menatap cahaya pagimu.
Bila sunyi menghampiriku
Izinkan aku mewarnai arti cinta.

Dalam doa rinduku.
Dalam nada ku sebut namamu.
"keseriusan rasa adalah modal setia,
 izinkan aku menjaga. Saat ini dan selamanya".

Ruang Aksara - Senja sebatang rokok.


Senja sebatang rokok.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Kasihani aku dinda.
Mungkin ku kan pilu menderita.
Tolah-toleh tanpa asap.
Mungkin juga tak berdaya.

Bayangan sebilah parang.
Tajam mengancam leher.
Alasan menuai derita.
Berusaha adalah jalannya.

Bayang-bayang Mei didepan mata.
Ku kan berusaha menjadi nyata.
Bukan janji kata-kata senja.
semoga aku bisa menjawabnya.

Tak ada alasan untuk lari.
Ataupun bersembunyi.
Wez diwanti-wanti.
Ra ketang, jotos melayang.

#Hehee, tertawaku didalam derita

puisi_Sadarlah keangkuhan ini.

Sadarlah keangkuhan ini.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Merasa berarti bukan aku yang berdiri sendiri.
Merasa sepi ialah aku yang lupa arti.
Merasa tersakiti bukti aku menyimpan sifat dengki.
Mempesona tiadalah arti hidup dalam bumi yang sepi.

Harus sampai kapan aku lupa diri.
Menatap wajahmu dengan penuh birahi.
Seakan berdiri atas keagungan illahi.
Aku sepi dengan keangkuhan ini.

Pergilah dengki, pemuja mimpi seolah benar sendiri.
Melupakan anugrah, memakan bangkai saudara sendiri.
Menampar sepi, bercermin mencemoh diri tak sadari.
Lupa diri, seolah dunia milik sendiri.

Aku hanya bongkahan batang yang sunyi.
Belatun, lalat ramai menggelapkan mata nurani.
Tak sadar akan busuknya hati.
Beraroma busuk terkungkung pesona ilusi.

Tak pantas aku yang merasa berilmu.
Membuta, mencabik dengan dalil.
Membisu saat fitnah menggrogoti kemanusiaan.
Aku adalah kamu, yang agung mendewakan diri sendiri.

Ruang Aksara - Anakmu sedang Rindu.

Anakmu sedang Rindu.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Terkuras Air dari Mata.
Rindu menyelami hati yang sedang gundah.
Bayang-bayang OrangTuaku yang tersayang.
Nikmat malam dalam lantunan doa.

Hati bungah, saat senyumnya terpancar.
Jiwa gelisah, saat tatapan lusuh bergelombang.

Tak bisa ku gapai.
Tak akan ku abai.
Tak akan ku lepas.
Dan ingin ku selalu menjaganya.
Tanpa waktu yang terbuang.

1000 maaf tak akan sanggup menutup dosaku.
1000 kebaikan tak mampu membayar keringatnya.
Karena maafnya adalah surgaku.
Berkat Kebaikannya adalah kesuksesanku.

Tersenyumlah...
Bantu aku dalam melangkah.
Bantu aku mencintai Taqwa.
Temani aku dalam ke Imanan.
Peluk aku dalam lantunan Doa...
Aku anakmu, sedang Rindu.

(barokah12mei2015hilmi)

Ruang Aksara - Menatap bahagia.

Menatap bahagia.
Oleh: pujangga gila

Hujan batu menerpa raga.
Nafas sesak melukai jiwa.
Menatap wajah muram durjana.
Tak berkutik ku dibuatnya.

Biarlah pukulan itu menempeleng kepalaku.
Agar aku dapat memahami kerasnya hatimu.
Semua agar batinku terlatih.
Semua mengantarkan jiwa raga ini menuju sabar.

Biarlah, angin bersorak ramai menertawai jiwaku.
Entah itu benar, aku hanya ingin kau bernafas senyum.
Bernada gembira, berkelip bintang diangkasa.

Emosi membeku, mencacimaki mukaku.
Aku tetap menatapmu dengan bahagia.
Mengurung diri dalam batin.
Karena aku mempunyai hati.
Hati ini menyimpan cinta.
Dan aku merasa bahagia, oleh cintamu...

(Barokah hilmi24mei2015)

puisi - kaki waktu

Kaki Waktu...
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

berburu angin...
tertipu nafsu...
terhampas bayangan...
tercabik ambisi...
termakan waktu...
terlelap dalam mimpi.
nyaman memandang angkasa.
namun kaki diam.
bersuara seolah berjalan.
lembut...
wajah bayangan...
menghidupi...
namum mematikan...
ialah sang waktu...
antara kaki dan mimpi...
(25mei2015)

Ruang Aksara - Pria rambut pirang

Pria rambut pirang
oleh: Gianda Gilang Panggaluh

Irama kendaraan bernada sumbar.
Hentakan kaki menyusuri trotoar.
Tatapan tajam membelah tanya.
Ia pria berambut pirang.

Berdendang menyelami waktu yang kejam.
Tak peduli tercabik panas aspal.
Tak peduli oleh sepinya malam.
Membelah ruang makhluk berwajah gembira.
Bersorak, mengungkap cinta mengundang tawa.

Tak peduli letih menghampiri nafsu.
Mengorek makanan didalam tong sampah.
Hanya ingin melepas paradigma sosial.
Melepas lelah, terkurung oleh sombongnya raga.
Tanda kebebasan atas dunia yang kejam.

Jangan kau cemoh kegembiraan ini.
Langkah ini melepas keangkuhan dunia.
Dengan aroma yang dianggap gila.
Keberadaanku adalah tanya atas sikap manusia.
(barokah hilmi,26mei2015)

Ruang Aksara - Indahnya Rindu

Indahnya Rindu
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Saya tak bisa berucap.
Tercengah menatap raut sang rindu.
Ia halus menyusup otak kiri.
Bergelombang berwujud nada dalam imajinasi.
Dan meluap berupa nyayian syahdu.

Rangkaian kata-kata.
Yang saya susun dari otak kanan.
Ialah goresa-goresan rindu.
Mewakili perasaaan yang bungah...
Dimana saya tak pernah merasa sendiri.
Nada-nada cinta menemani dalam sepi.
Melewati dimensi waktu.

indah....
indah....
indah...
oooh indahnya berselimut rindu.
(barokah hilmi,09juni,2015)

Ruang Aksara - Tenggelam

Tenggelam
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Lemah jiwa terdampar oleh penyesalan.
Merintih kesakitan terjepit duniawi.
Hatinya telah mati ditikam nafsu.
Akal sehat sudah tercemari limbah emosi.

Tenggelam, ia terkurung dalam kegelapan.
Termakan oleh kejamnya waktu.
Hingga mati dan terlelap dalam gelapnya kebuntuan.
(Jombang,02juni2015)

Ruang Aksara - Mutiara sunyi

Mutiara sunyi
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Mutiara layu terkungkung dalam sepi.
Beningnya bersembunyi dalam kotak perhiasan.
Hanya menjadi pameran dalam almari.
dan dipertontonkan dalam ajang gengsi.

kasihan ku memandangnya, terhinakan oleh pemujanya.
Memang sih mahal harganya, tetapi tolak ukurnya uang bentuk materi.

Pasti akan layu termakan waktu.
Terbuang saat keriput menghampiri.
Akankah tetap menjadi pujaan? saat kecantikannya pudar harganyapun memudar.
Dan Terbuang harga dirinya.

Pantaskah aku sebagai pemujanya?
tidak, jawabku tegas !!!
Aku hanya ingin menjadi penjaga mutiara itu.
Penjaga harga dirinya sebagai Wanita Mulia.
tidak untuk ku simpan, ataupun ku perjual belikan.
(barokah Hilmi,07juni2015)

refleksi

refleksi sajalah

"If I go into myself", "kalau saya masuki diri saya sendiri", kata Hume, maka saya jumpai "bundles of conceptions",lebih tepatnya gambaran absut gulung-gulung pengertian, bermacam-macam gambaran dari pada benda. lantas, saya bisa ketahui dengan pancaindera saya tentang suatu benda, tetapi "Ding an Sich" benda sendirinya, saya tidak bisa ketahui???
tonjolan pemikiran hume tentang "ide" itu sendiri mengurung dirinya dalam gelapnya gua, seperti gambaran plato, "Pertama-tama kita bayangkan sekelompok orang yang ditawan sejak lahir. Orang-orang ini sejak kecil dirantai dalam gua. Tangan, kepala, dan kaki mereka diikat secara ketat, sedemikian hingga seumur hidup cuma bisa menatap dinding di depan mereka.Di belakang mereka terdapat api unggun besar. Apabila ada orang atau binatang lewat, maka bayangannya akan terpantul ke dinding di depan para tawanan. Setiap kali orang atau binatang itu bersuara, suaranya akan bergema sampai ke telinga para tawanan. Karena seumur hidup cuma melihat pantulan di dinding, para tawanan mengira bayangan dan gema itu sebagai kenyataan sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa semua itu sekadar pantulan dari benda di belakang mereka." dari sudup pandang plato saya dapt menangkap, titik perumpamaan, tentang manusia ynag menyangka kenyataan berdasarkan apa yang mereka persepsi. Dalam hal ini, tawanan yang seumur hidup menatap dinding akan terdorong menganggap bayang-bayang dan suara gema sebagai sebentuk realitas.

Kalau Hume hendak mengetahui apakah benda yang bernama buah jeruk itu umpamanya, maka yang ia insyafi cuma rasanya yang manis, kulitnya yang licin, beratnya yang 1/2 atau ¼ kilo, warnanya yang hijau atau kuning, bunyinya yang nyaring atau lembek. Bunyi itu ada di telinga, dalam badan Hume, bukan pada jeruk, beratnya di tangan Hume, bukan pada jeruk, rupanya pada mata, rasanya di lidah atau di ujung jari Hume. Semuanya bunyi, rupa dan rasa dengan perantaraan saraf, nerve, berjalan ke pusat ke centre, ke otak.

Otak mencatat bunyi, rupa dan rasa tadi menjadi pengertian, conception, seperti pengertian merdu, kuning, berat, lezat dan licin. Semua pengertian ini " dalam" saya, kata Hume, bukan di luar saya. Jeruk itu sebagai benda, tak ada bagi saya. Yang ada Cuma "ide", pikiran, pengertian, tentang benda itu dalam otak saya. Otak saya penuh dengan pengertian "bundles of conceptions" kata Hume. Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, tak ada buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, gambaran dari jeruk, lembu, bumi, bintang dan engkau. "Engkau" kata Hume, cuma "ide" buat saya.

Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku ide saja, membatalkan adanya dirinya sendiri, mengakui bahwa sebetulnya dia sendiri tak ada. Beginilah akibatnya yang konsekwen dari Idealisme, dengan membatalkan adanya benda, ia membatalkan dirinya sendiri.

Demikianlah David Hume dengan memisahkan ide dari benda, abstraction dan menganggap ide yang pertama, dalam menentang benda sebagai dasar yang pertama, tewas dalam tentangannya membatalkan adanya diri sendiri. Dengan begitu ia sebetulnya membatalkan filsafat idealisme itu.
hhhehehe cukup mencengangkan otak kanan saya, tentang perumpamaan "ide" yang di gagas oleh seorang hume, disini saya cukup terkesan dengan konsistennya beliau dalam berpikir dan bertindak, setidaknya beliau berani bertanggung jawab atas apa yang beliau gagas. "satu tindakan, satunya pikiran dan perbuatan."
(15juli2015)

Ruang Aksara - Berwarna

Berwarna
oleh: Giandra Gilang Panggaluh


ada apa dengan warna
hingga jiwa terlelap dalam perang saudara
genderang bersuara lantang mencemooh
bertikai seperti hewan, berebut mangsa
menghasut bagaikan setan


warna-warna saling menyalahkan
warna-warna menganggap dirinya kebenaran

apa itu kebenaran yang tertuju?
kebenaran yang belum tentu benarnya
bagai anjing menggonggong di siang bolong
ia kebenaran yang mengusik pengabdian
kebenaran yang merusak persaudaraan
karena benar dimatamu, belum tentu benar dihatimu

kini, hingga tak ada hati yang tenang
banyak wajah bergambar kegelisahan
kerena harus berlari, terbirit ketakutan
banyak pula yang bersembunyi, karena kesepian tanpa teman

berwarna, sewajarnya indah
indah bersandingan, sebagaimana percikan
merah, kuning, hijau, hitam, putih, biru
menghiasi tembok kehidupan.
(BAROKAH HILMI,10,AGUSTUS,2015)

Ruang Aksara - API PERSAUDARAAN

API PERSAUDARAAN
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Wahai…  Saudara-saudraku
Jangan kau diam, ataupun acuh
Bila, kau tak ingin BANGSA ini mati rasa

Kemarilah…
Sentuh saya, semesrah hangatnya mentari
peluk saya, seerat Bhinneka Tunggal Ika

wahai…  jiwa-jiwa yang Merdeka
Bersatulah dalam kobaran api Revolusi,
api yang diawali oleh rasa peduli
api yang menyatu dari percikan-percikan persaudaraan,
yang bernasib sama.
Ialah api yang menjunjung tinggi, keadilan
Dan kesejahteraan bersama
Ia adalah hakikat Kemerdekaan.

wahai...malam-malam yang gelap
kami datang membawa selimut api persaudaraan
kami tidak pernah takut, oleh dinginmu
oleh hasutanmu
oleh iming-imingmu
oleh uangmu, ataupun ancamanmu

ketahuilah....
kami adalah satu
kami adalah kamu, saya dan semua yang berdarah Merah
yang bersumpah suci atas roh para pendahulu

Proklamasi 17 agustus 1945
Adalah sumpah kami,
Atas nama BANGSA INDONESIA
SOEKARNO, HATTA

sekali merdeka !!! tetap merdeka !!!
(13-agustus-2015, JOGOROTO,JOMBANG,JATIM)