Kamis, 27 Juli 2017

Ruang Aksara - Dinda Gadis Manja dan Misteri Bunga Mawar


Oleh: Giandra Gilang Panggaluh.

Dinda gadis manja dan misteri bunga mawar

Pada suatu pagi buta terdengar seruan subuh yang beriringan dengan kokokan ayam jantan. Keberadaan di pagi itu masih berkabut dengan embun yang tebal. Saat itu, seorang anak yang bernama "Dinda" berselimut rapat, nyenyak dalam tidurnya. Menjajaki pulau-pulau mimpi. Melepas segala angan yang menumpuk pada benak, tanpa ada yang dapat mengganggu.

Saat Dinda lagi asyik lelap, tiba-tiba ibu datang menghampirinya. Ibu tidak bermaksud untuk mengganggu dinda yang lagi asyik menjajaki pulau-pulau mimpinya, ibu datang membawa harapan, agar anaknya tidak terbiasa hidup bermalas-malasan.

Ibu mengetuk pintu kamar dinda, dan 7 kali mengetuk, tanpa ada jawaban. Ibu langsung menghampiri dinda yang sedang melungker, terbalut rapat oleh selimut.

Namun kehadiran ibu tidak kunjung membuat dinda membuka matanya. Dan sesekali ibu masih membiarkan dinda yang nyenyak didalam tidurnya, karena ibu masih harus mengurusi beberapa pekerjaan rumah.

Selang beberapa menit, hingga wajah mentari mulai menampakkan merahnya pada timur langit, yang siap menghangatkan dunia. Ibu pun segera beranjak lagi dari rutinitas paginya. Lagi-lagi Ibu menyempatkan diri membangunkan dinda yang masih saja bermalas-malasan membuka mata. "Dinda, bangun sayang, matahari sudah mau tampak," lanjut ibu, "dirimu nanti terlambat sekolah bila bermalas-malasan begini", nasihat ibu sambil menepuk-nepuk lirih telapak kaki dinda.

Namun lagi-lagi dinda tidak kunjung beranjak dari lelapnya. Dinda hanya mulet (menggeliat), dan sesekali mengelindingkan badan, menghindari sentuhan ibu pada telapak kakinya.

Tidak menunggu lama, ibu yang khawatir anaknya terbiasa hidup malas. Lekas, ibu mengambil segelas air putih dan mempercikkan beberapa tetes air kearah kaki dinda. Sesekali percikkan air tersebut sengaja ibu teteskan pada wajah dinda. Agar dinda lekas bangun dan membuka matanya. "Haduh ibu, dinda masih mengantuk", keluh dinda yang terkena percikan air.

Memang tidak terelakkan, percikan air tersebut adalah jurus terampuh ala ibu dinda, untuk mengusir kemalasan yang hinggap pada tubuh anaknya. Keadaan tersebut memaksa dinda membuka mata, dan bangun dari kasur tempatnya mengukir jutaan mimpi. Dan tanpa menunggu lama, dinda langsung dituntun oleh ibunya sampai menuju muka pintu kamar mandi. Didalam kamar mandi, segala handuk, dan semua keperluan mandi sudah disiapkan oleh ibu didalam kamar mandi.

Sambil menunggu dinda mandi, ibu mempersiapkan seragam, buku, tas dan keperluan dinda sekolah. Saat itu dinda masihlah gadis manja, ia terbiasa dari kecil, dipersiapkan segala apapun keperluannya oleh ibunya, hingga kini dinda menginjak kelas 5 SD pun tidak kunjung mau mempersiapkan keperluannya sendiri.

Setelah usai mandi dan dinda rapih berseragam sekolah lengkap, yang terpakai pada badannya. Ibu kembali menggiring dinda untuk sarapan pagi bersama ayah, sebelum berangkat ke sekolah.  Sebelum memulai makan, seperti biasa ayah memimpin keluarganya berdoa terlebih daluhu. Berdoa sebelum makan yang dipimpin oleh  ayah sudah menjadi kebiasaan dan budaya didalam keluaga kecil dinda.

Sebelum ayah memimpin berdoa, tiba-tiba ayah menyindir dinda. Ayah merasa kemanjaan dinda semakin hari semakin menjadi-jadi keterlaluannya.

"Dinda enak ya, sudah besar setiap hari, apa-apa diurusin oleh ibu," celetuk ayah yang ditujukan kepada dinda, dan lanjut ayah, "tidak malu kah dinda, sudah besar masih saja ibu yang menyiapkan segala keperluan dinda".

Namun dinda hanya melepas senyum manjanya kepada ayah. Tanpa membalas sindiran ayahnya. Dan tanpa menunggu jawaban dari dinda pun, ayah langsung memimpin doa untuk segera memulai sarapan pagi.

Seusai sarapan dinda langsung bersiap-siap memakai sepatunya untuk segera diantar ayah berangkat ke sekolah. Dinda setiap berangkat ke sekolah selalu bersama ayahnya. Sejalan dengan ayah berangkat kerja.

Diperjalanan menuju sekolah, ayah mengajak ngobrol dinda. Didalam obrolan ayah sedikit mengulas pelajaran sekolah yang semalam dinda pelajari bersama ayah.

Hari itu dinda tidak hanya berangkat ke sekolah bersama ayahnya saja. Hari itu, ibunya juga ikut serta mengantarkan dinda ke sekolah karena ibu akan berkunjung kerumah nenek, yang juga sekalian diantarkan oleh ayah.

Ditengah perjalanan, ayah dinda menepikan kendaraannya, menyempatkan diri untuk membeli koran di ruko yang berada dipinggiran jalan depan pasar legi. Namun kali dipagi itu ayah tidak hanya membeli koran. Ayah dinda juga membeli 7 tangkai bunga mawar yang masih segar bunganya dari seorang anak kecil yang berseragam sekolah, yang berdiri disamping ruko kecil penjual koran.

Tidak seperti biasanya, yang setiap hari ayah hanya membeli koran kini ditambah dengan 7 tangkai bunga mawar, dinda penasaran dan menanyakannya kepada ayahnya. "Ayah beli bunga mawar buat apa?" Tanya penasaran dinda, menanyakan maksud kepada ayah. Namun, didepan penjual bunga ayah hanya membalas pertanyaan dinda dengan senyuman.

Hampir sampai didepan gerbang sekolah, rasa penasaran dinda tidak kunjung hilang oleh bunga mawar yang ayah beli, dan kini pernyataan soal bunga mawar itu ditanyakan dinda kepada ibunya yang sedang memeluknya diantara ayah. "Bu, memangnya mawar yang ayah beli itu titipan untuk nenek ya?" tanya dinda kepada ibunya. "Tidak tahu nak, mungkin iya, dan mungkin tidak, lagian ayah juga tidak bilang apa-apa kepada ibu," sambil tersenyum ibu menjawab pertanyaan dinda.

Jawaban ibu ternyata masih mengambang dari harapan dinda. Hingga tidak ada kesempatan lagi untuk bertanya kepada kedua orang tuanya, tentang 7 bunga mawar yang ayah beli. Karena mereka sudah sampai tepat didepan gerbang sekolah, tempat dinda belajar dan nenuntut ilmu.

Sesampainya didepan gerbang sekolah. Dinda yang dibantu ibu turun dari sepedah motor, langsung berpamitan, bersalaman kepada ayah dan ibunya. "Ayah, ibu dinda belajar dulu ya," pamit dinda kepada kedua orangtuanya. "Iya sayang, yang rajin ya belajarnya dan jangan manja disekolah, karena tidak ada ibumu di sekolah," sindir ayah, sambil melepas senyuman hangat kepada dinda.

Setiba dinda didalam area sekolah, 7 tangkai bunga mawar yang dibeli ayah, menjadi misteri yang bersarang didalam benaknya. Dan dibawanya kedalam aktifitas belajarnya di sekolah.

Misteri bunga mawar itu menghiasi sela-sela waktu senggang dinda didalam kelas, namun, untungnya tidak mengganggu proses belajar dinda didalam kelasnya.
Meskipun dinda anak yang menja, prihal pelajaran atau proses belajar, dinda sangat disiplin. Dinda hampir  tidak pernah sekalipun absen dalam belajar.

Disela-sela waktu senggang, pada jam istirahat sekolah, dinda hari itu tidak ikut bermain bersama teman-temannya. Pada jam istirahat tersebut dinda hanya melamun memikirkan misteri bunga mawar. Lamunannya itu membawa dinda melayang tinggi pada ruang angkasa imajinasi.

Tanpa disadari ada dua sahabat dinda, yakni rini dan aisyah yang sedang diam-diam menghampiri dinda, dan sontak mengageti dinda yang lagi asyik melamunkan misteri bunga mawar.
"Hayo lagi ngelamunin apa?" Ledak rini dan aisyah mengagetkan dinda.
Sontak, dinda langsung terbangun dari ruang imajinasinya.

"Idih, dinda anak manja lagi ngelamuni siapa nih? Kayaknya serius banget," ledek rini dan aisyah berbarengan, melemparkan tanya kepada dinda.

Tanpa berbelit-belit dinda langsung menceritakan panjang-lebar misteri bunga mawar kepada kedua sahabatnya. Mendengar cerita dari dinda, rini dan aisyah hanya menggelengkan kepala. Dan pada akhirnya tidak ada satupun dari mereka yang sanggup memecahkan misteri bunga mawar, hingga waktu menggiring mereka untuk memulai jam belajar kembali, kedalam kelas.

Tidak terasa kini terik matahari mulai terpancar lurus diatas tiyang bendera merah-putih, dan terik matahari itu memaksa masuk menerobos atap kelas, tempat dinda belajar bersama teman-temannya. Namun dinda dan teman-teman kelasnya masih asyik dengan proses belajarnya didalam kelas, sekalipun suasana gerah.

Saat mereka asyik dalam belajarnya didalam kelas, tiba-tiba bell sekolah berbunyi. Bunyi bell itu memberi tanda kepada dinda dan teman-teman kelasnya untuk segera merapikan seluruh bukunya kedalam tas, karena waktu belajar di sekolah sudah usai pada hari itu.

Lalu dinda dan teman-temannya berdoa bersama-sama. Selesai berdoa bersama, Dinda dan teman-temannya beriringan, bersalaman kepada Bu Guru Janah, berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing.

Keluar dari kelas, tidak sedikit anak-anak yang sengaja duduk-duduk disekitar pendopo sekolah. Tempat itu berada dimuka gerbang pintu utama sekolah, yang biasanya anak-anak "SD ABDUL MANAF" berkumpul menunggu jemputan dari orangtuanya masing-masing. Begitupula dengan dinda yang sedang menunggu di jemputan Ayahnya.

Di area pendopo tumbuh beragam bunga-bunga yang bermekaran indah serta tertata rapih, seolah-olah memagari area pendopo dengan keanekaragaman warnanya. Saat dinda menikmati pemandangan bunga-bunga indah yang tumbuh pada sekitar taman pendopo, seketika dinda teringat misteri bunga mawar.

Angan-angan dinda tentang misteri bunga mawar terbangun kembali membentuk bayangan. Lalu bayangan itu seolah menari-nari dan menyusun serpihan-serpihan kata yang berhubungan dengan misteri bunga mawar. "Bunga?" "Mawar?" "Untuk apa?" "Dan untuk siapa?"
Serpihan kata itu lama kelamaan enjadi susunan kalimat tanya yang bersarang pada pikiran dinda; "Untuk apa ayah membeli bunga mawar?" Bayangan dinda, " dan untuk siapa bunga mawar tersebut dibeli oleh ayah?" Pikirnya, karena tidak seperti biasanya ayah membeli bunga mawar.

Dinda merasa ada yang aneh. Di rumahnya, tepat di halaman depan sudah banyak tananam bunga, yang telah ditanam ayah dan ibu untuk menghiasi halaman rumahnya. Malah didepan halamannya juga terdapat bunga mawar merah dan mawar putih. Lantas untuk apa ayah membeli 7 bunga mawar dari seorang anak kecil dipinggiran jalan, depan pasar legi?

Bayangan itu melayang-layang. Bayangan itu membuat ruang sendiri didalam imajinasi dinda, mengantarkannya kedalam puluhan, bahkan sampai ratusan kata, yang tersusun rapih dalam bentuk kalimat, pertanyaan kepada dirinya sendiri:

"Kalau bunga mawar itu buat nenek, kan bisa saja ayah dan ibu memetiknya dihalaman depan rumah. Dan itu tidak usah membuat ayah membelinya dijalan?" Sepintas kalimat pertanyaan didalam pikiran dinda,
Lanjutnya; "Ayah itu orangnya sangat efisien, tidak mungkin menghamburkan uang, bila ayah bisa mengolahnya sendiri?"

"Apa mungkin,  ayah terpaksa membelinya dijalan untuk nenek, karena ayah lupa memetiknya dihalaman rumah," Anggapan dinda,

"Lagi-lagi Itu tidak mungkin, Nenek pasti menolaknya, karena nenek lebih suka bunga mawar putih."

"Apakah ayahku sedang iseng," ??? "Tidak, tidak, itu tidaklah mungkin," pangkas dinda sendiri.

"Pastinya, mawar itu ada alasannya tersendiri, kenapa ayah membelinya?"

Begitu yakin dinda, bahwa tidak mungkin ayahnya membeli tanpa alasan yang tepat. Sejauh dinda mengenali ayahnya. Dinda faham betul, semua itu (bunga mawar) pasti ada alasannya yang tepat.

"Dinda," sapa ayah. Tiba-tiba ayah dinda sudah berada didepan tempat dinda duduk, dan seketika itu dinda cepat-cepat menghapus semua lamunannya. Dinda lekas bersalaman kepada ayah dan menaiki sepedah. Lalu langsung pulang ke rumah.
Diatas kendaraan, disepanjang perjalanan pulang, tidak ada sepatah katapun yang terucap antara dinda dan ayah. Kecuali senyum ayah yang mengusik pikiran dinda. Karena senyuman dari ayah itu, menggambarkan ejekan misteri bunga mawar.

Ayah dinda sangtlah filosofis (bijaksana). Demikian juga dengan cara mendidik anaknya yakni dinda. Ayah dinda tidak pernah memarahi dinda ataupun mengomeli dinda. Teguran keras yang pernah diterima dinda dan tersimpan menjadi pelajaran tersendiri untuk dinda ialah; saat dinda berani melawan ibu, dan saat dinda lelet mengerjakan ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari dirumah, Ayah dinda lebih banyak mencotohkan dari pada menyuruh dinda. Demikian juga dalam prihal belajar. Bahkan sering-kali, disetiap liburan pekan Ayah mengajak Dinda berkunjung keperpustakaan Kota untuk membaca-baca beberapa buku yang tertata rapih pada rak perpustakaan kota. Dan tidak hanya dalam soal belajar,  Ayah dinda juga sering mencontohkan kepada dinda bagaimana cara menghormati sesama manusia dan ayah juga sering kali mencontohkan kepada dinda, bagaimana menjaga alam sekitar, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sesampainya dirumah. Dinda seperti biasa melepas alas kakinya, sepatu dan ditaruhnya pada rak sepatu. Lalu dinda langsung cepat-cepat menuju ke tempat ibu, untuk bersaliman dan mencari pelukan hangat dari ibunya. Dan seperti biasanya ibu membalas pelukan dinda. Bagi dinda, ibunya adalah bentuk kasih sayang yang tidak pernah mengingkarinya, dan selalu sabar menghadapi kemanjaannya.

Saat usai merapikan seragam sekolah dan peralatan sekolah, yang dibantu oleh ibu. Dinda lalu bersiap-siap makan siang dan sehabis makan siang, biasanya dinda lansung bermain bersama teman-teman sebayanya dilingkungan desa. Namun kali ini dinda akan menunda bermain sesuai makan siang. Dinda menyadari, ada misi pribadi yang harus ia pecahkan bersama Ayahnya. Misi itu adalah menguak, "Misteri Bunga Mawar Merah".

Dinda sama seperti anak-anak lainnya, rasa penasarannya akan sesuatu hal masihlah tinggi. Dan ditambah lagi, dinda adalah anak yang kritis akan semua hal. Dinda percaya, tidak ada sesuatu didunia ini tanpa alasan, semua mempunyai sebab akhir karena semua yang berada pada dunia inipun ber-awal. Dan apapun yang ber-awal pastilah mempunyai sebab akhir.

Setibanya dimuka meja makan. Dinda merasa seperti ada yang janggal. Bukan mejanya yang aneh. Meja makan dirumahnya masih berbentuk bundar melinkar dan bertaplak rapih, yang bercorak batik. Tetapi kejanggalan itu terdapat pada tengah-tengah meja makan. Ditengah-tengah meja, terdapat fas bunga beserta kumpulan bunga mawar?

Dihitungnya oleh dinda sambil memandang kaku bunga mawar tersebut, "satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh," berhitung dalam hati. Sontak dinda tercengang mendapati bunga mawar itu berjumlah 7 ,  Dan dilihatnya lagi dengan teliti, "benar, itu bunga mawar yang persis seperti yang dibeli ayah sewaktu mengantarkan ku berangkat ke sekolah," tegas dinda dalam hati.

Keberadaan bunga mawar tersebut, bukan malah membuat dinda lega atas misteri yang hampir separuh waktu bersarang pada pikirannya. Justru sebaliknya, kini menambah pertanyaan baru?

"Apakah ayah sudah mulai pikun?" Tegas dinda.

"Untuk apa ayah dengan sengaja membeli bunga mawar sewaktu mengantarkan saya berangkat ke sekolah?" Tanya dinda dalam hati.

"Padahal, di halaman rumah sudah ada bunga mawar yang tumbuh subur!!"

"Apa bedanya bunga mawar yang ayah beli dengan bunga mawar yang berada pada halaman rumah?" Tanya dinda dalam hati.

"Toh keduanya, sama-sama berwarna merah," tegas dinda dalam hati.

"Atau ada yang spesial dari bunga mawar yang ayah beli, berbeda dengan yang ada dihalaman rumah sendiri?"

"Toh, keduanya sama-sama berduri," tegas dinda dalam hati.

Namun setelah dinda berpikir bertanya-tanya panjang didalam hati, dinda sadar, semua misteri itu jawabannya ada pada ayahnya.

"Ayah adalah kunci dari misteri 7 bunga mawar tersebut!!". Pungkas dinda dalam hatinya.

Ayah, dan ibu mulai duduk dimeja makan. Tetapi pandangan dinda bukan pada menu makanan yang disajikan ayah dan ibunya. Pandangan dinda masih menuju pada 7 bunga mawar yang dipajang tepat di tengah-tengah meja makan.

"Ada apa dinda?" Tanya ayah sambil melempar senyuman meledek kepada dinda.

"Apakah ada yang aneh, sayang?" Lanjut pertanyaan ayah kepada dinda.

"Ti, ti, dak yah, tidak ada apa-apa kok Yah?" Dengan gugup berusaha menyembunyikan rasa penasarannya kepada ayah.

"Ayo ayah, dipimpin doanya, nanti keburu dingin sayurannya, sudah jangan dihiraukan dinda," canda ibu sambil melempar senyuman manisnya kepada dinda.

"Oke bu," jawab Ayah kepada Ibu. Lanjut Ayah, " ya sudah nanti saja ya dinda, selesai makan baru ayah kasih kunci jawabannya." Ledek ayah kepada dinda, seolah faham dengan rasa penasaran yang menumpuk pada benak dinda.

Doapun mulai dipimpin oleh ayah, dan selang selesai berdoa, lekas Ibu, Ayah dan Dinda memulai menyantap hidangan makan siang. Ayah dan ibu terlihat saling balas-membalas senyuman dinataranya, keduanya melihat ada yang lucu dari tingkah laku anaknya.

Tidak seperti biasanya yang bermalas-malasan saat makan, kini dinda terlihat gemar dengan sepiring nasi yang basah kuyup oleh sayur sop dan dihiasi sepasang gorengan telor ceplok beserta tempe yang gurih, dan tidak lupa secuil sambal kecap ditepi piringnya. Ayah dan Ibu merasa bahagia, melihat anaknya lahab saat makan.

Seusai makan dinda membantu ibu dan ayah membereskan perabot makanan yang kotor. Ayah mencuci piring-piring yang kotor. Sedangkan Dinda membantu ibu membereskan sisa sayur dan lauk yang masih lumayan banyak untuk dibawa kedapur yang nantinya akan dihangatkan dan dimakan kembali waktu senja buta.
Ayah sudah selesai dengan cucian piringnya dan langsung menghampiri Dinda yang terlihat duduk anteng pada kursi-meja makan. Dengan muka cemberut, seolah mengih janji kepada ayahnya, tentang kunci jawaban dari misteri bunga mawar merah.

"Kok masih dimeja makan dinda?" Lanjut ayah," dinda masih lapar ya?" Ledek ayah.

"Kunci jawabannya ayah!" Seru dinda dengan cemberut kepada ayah.

"Oh iya, ayah hampir lupa," sambil tertawa lirih, ayah membalas muka masam dinda.
Lanjut ayah, "sebentar nunggu Tea hangat buatan ibumu dulu ya".

"Ayah mah gitu," jawab dinda.

"Ini tea hangatnya buat ayah," Ibu memghampiri ayah dengan menyajikan segelas tea hangat untuk ayah.

"Dan ini susu coklatnya keesukaan dinda," ibu masih dengan senyuman manisnya, menghampiri dinda.

"Terimakasih bu tea hangatanya," senyum ayah kepada ibu.

"Terimakasih bu, susu coklatnya," senyum manja dinda kepada ibu.

Ayahpun memulai membuka pembicaraan seputar bunga mawar merah yang sengaja ayah beli.

"Ada yang aneh dengan bunga mawar diatas meja itu," ayah sambil menjuk 7 bunga mawar yang berada pada fas, diatas meja makan.

"Bunga mawar itu, ayah beli buat dinda, bukan buat nenek," lanjut Ayah,  sambil nyeruput tea.

"Untuk apa Yah? Kan didepan halaman kita sudah ada bunga mawar, lebih banyak pula," balas dinda dengan rasa penasarannya.

"Ya untuk dinda, dan untuk mengingatkan dinda?" Balas ayah.

"Apa yang diingatkan Yah, soal kemanjaan dinda?"

"Iya, itu tahu."

"Lantas apa hubungannya bunga mawar dan kemanjaan dinda Yah?"

"Dinda tadi pagi, sewaktu ayah membeli bunga, memperhatikan, apa tidak, siapa penjual mawar merahnya?"

"Memperhatikan Yah, anak kecil berseragam itukan," lanjut dinda, "lantas apa hubungannya dengan dinda?"

"Anak sekecil itu, yang mungkin sama persis seumuran dinda harus berjualan terlebih dahulu, sambil berangkat ke sekolah," nasihat ayah kepada dinda.

"Sedangkan dinda setiap hari apa-apa masih di urusi oleh ibu."

"Dinda seharusnya malu donk," tegas Ayah.

"Iya, ayah," jawab dinda lirih sambil menunduk.

"Anak ayahkan sudah besar, harus belajar mandiri," Ayah menghampiri dinda, dan memeluknya.

"Ayah  bilang begini bukan karena ayah marah kepada dinda,"

"malahan ayah sangat sayang sama dinda," lanjut nasihat Ayah sembari memeluk anaknya, dinda.

 "Cuma ayah tidak ingin bila sampai dewasa nanti dinda selalu ketergantungan kepada orangtua".

"Sedikit-sedikit ibu, dan kenapa-kenapa harus ibu yang ngurusin dinda."

"Lantas, semisal Ibu sedang sakit, dan ayah juga tidak bisa lagi membantu dinda, lalu siapa nanti yang akan mengurusi dinda, kalau bukan dinda sendiri?" Nasihat ayah kepada dinda. Ayah masih dengan senyumnya yang hangat dan memeluk dinda.

"Yah, maafin dinda ya." Jawab dinda dipelukan ayahnya.

"Loh, kok minta maafnya kepada ayah." Timpal Ayah.

Lanjut ayah, "Dinda minta maafnya kepada ibu donk,  ibu yang selama ini bersabar mendidik dinda." Terang Ayah kepada dinda.

Lekas dinda langsung memeluk ibunya yang duduk disamping ayah.
Dinda menyadari bahwasanya apa yang dilakukannya selama ini, kebiasaan manja adalah perilaku buruk yang akan menyusahkannya saat tumbuh dewasa.

Dan mulai saat itu dinda membuang jauh-jauh kebiasaan buruknya menjadi anak manja. Dinda belajar hidup mandiri, ia tidak mau, bila nanti tumbuh dewasa masih saja merepotkan ibunya.

Dari 7 bunga mawar, yang dengan sengaja dibeli oleh ayah dari seorang anak dipinggiran jalan, menjadi pelajaran yang selalu diingat oleh dinda. Dan dari pelajaran tersebut dinda menyadari, bahwa belajar itu bukan sekedar belajar disekolah, ataupun dari buku pelajaran yang selalu diingat-ingat untuk mengisi lembaran soal disekolah. Namun belajar juga termasuk, belajar hidup mendiri, dan belajar dari kehidupan orang-orang disekitarnya.

Semenjak kejadian itu,  ayah selalu memajang bunga mawar merah dimeja makan, agar dinda selalu ingat, bahwasannya tidak baik hidup menja.

***
Sekian Terima kasih.

#Mohon maaf bila ada kesamaan nama atau latar belakang. Semua cerita diatas hanya fiksi belaka.

#Fiksi