Sabtu, 27 Mei 2017

Ruang Dongeng - Kucing yang manis

Kucing yang manis

Senja buta mulai menyelimuti Desa Wonokerto, seekor kucing dengan wajah yang murung sedang merenung didalam kesedihannya. Tergambar jelas diwajahnya, ia sedang kalut tersedu-sedu dipojokan gang rumah Kak Andra.

Tepatnya pukul 19.00, Kak Andra menyadari ada suara sendu disamping rumahnya. Tanpa berpikir panjang kak andra langsung menghampiri suara tersebut dan ditemuinya seekor kucing hitam bersih sedang menangis. "Ada apa kucing cantik?" tanya kak andra sambil mengelus si kucing dan mengajak si kucing masuk kerumah kak andra. Dengan memasang wajah kaget dan heran si kucing menjawab "saya tak mempunyai teman kak", sembari jalan memasuki rumah kak andra dengan tersedu-sedu si kucing menjelaskan kesedihannya; Ia (kucing) yang dikenal mempunyai nama "Shecat", menceritakan kepada kak andra, bahwasannya ia tidak berani berteman, karena tidak percaya diri memiliki bulu-bulu yang berwarna hitam pekat.

Mendengar keluhan Shecat, kak andra hanya tersenyum dan langsung menasihatinya dengan nada yang halus. "Engkau seharusnya bersyukur karena sudah diberi Tuhan Yang Maha Esa; bulu berwarna hitam yang sedemikian indah itu," nasihat kak andra kepada shecat. Dan si kucing hanya bengong mendapati nasihat Kak andra. "Kau mengerti landak?" lantas lanjut tanya kak andra kepada shecat. "Iya mengerti, ada apa dengan landak kak?" jawab shecat dan menyakan balik kepada kak andra.

Dengan senyum yang ramah sambil duduk disofa, kak andra menceritakan keistimewaan landak kepada shecat; dahulu landak sesekali pernah bersedih kepada dirinya sendiri, karena ia terlahir dengan bulu-bulu yang tajam, dan saat ia tumbuh dewasa landak menyadari manfaat bulu-bulunya yang tajam itu. Dengan bulu-bulu yang tajam tersebut Ia (landak) bisa melindungi dirinya sendiri dan teman-teman disekitarnya bila diganggu oleh orang jahat, dan landak sangat bersyukur oleh keberadaan bulu-bulunya yang tajam tersebut.

Mendapati cerita dari kak andra shecat, mengusap air matanya, dan menanyakan hubungan landak dengan dirinya sambil duduk manis disofa.

Shecat: "lantas apa hubungannya bulu-bulu tajam landak dengan bulu hitamku kak?"

Kak andra: "semua mahluk mempunyai kekurangan dan kelebihan, adapun itu semua mempunyai manfaat didalam kehidupannya. Kucing cantik artinya; kamu harus bersyukur karena kamu diberi Tuhan Yang Maha Esa bulu-bulu yang halus dan hitam pekat begitu."

Shecat: "iya kak, saya seharusnya bersyukur karena dibalik tajamnya bulu landak saja sangat bermanfaat adanya."

Kak andra: "iya betul sekali, maksud kakak demikian, dan lagi; semua itu bukan tanpa berjuang looh?"

Shecat: "berjuang? Maksud kakak apa?"

Kak andra: "dengan bersungguh-sungguh kamu harus berjuang mulai sekarang mencari teman dan berbuat baik kepada temanmu, karena keburukan itu bukan karena warna bulu, atau tampang." lanjut kak andra, "keburukan itu karena tingkah laku, artinya; bila kamu baik kepada teman, maka kamu akan banyak teman, dan sebaliknya," tegas kak andra.

Shecat: "Terimakasih kak, sudah mau menasihati saya," lanjut shecat, "kak andra mau berteman dengan saya?" pungkas shecat

Kak andra: "ya mau dooonk, hhhehe," sambil tertawa, "lagian siapa sih yang tidak mau berteman dengan kucing yang manis ini."

Shecat: "sekali lagi terimakasih ya kak."

Kak andra: "sama-sama manis."


Tak terasa waktu menjemput gelap, kak andra dan shecat masih asyik bercanda gurau diruang tamu didalam rumah kak andra. Dan akhirnya mereka saling berpamitan satu sama lain.

Dari perbincangan dengan kak andra, shecat mendapat titik terang atas kesedihan yang tadi sempat mengurungnya itu. Ia menyadari bahwasannya ia harus berubah, serta harus berjuang untuk berprilaku baik. Agar dikemudian hari ia dapat berteman baik dengan semua orang tanpa terkecuali.

Sekian terimakasih.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh.

Rabu, 24 Mei 2017

Ruang Dongeng - Kakek pikun dan Budi yang baik hati

Kakek pikun dan Budi yang baik hati

Di suatu pagi duduk seorang Kakek tua yang sedang murung dipinggiran sungai Desa wonokerto didepan rumahnya, datang Peri kecil menawan bersayap biru dan merah yang bernama Devina. ”Ada apa Kakek kok murung gitu?” tanya Peri kecil kepada Kakek. “Ini Peri, sepeda motor Kakek yang berwarna biru hilang?” jawab Kakek kepada Peri Devina. “oh iya, nanti Devina bantu,” tegas Peri kepada Kakek sembari pamitan mencari motor Kakek yang hilang.

Baru terbang 7 meter memasuki tengah-tengah Desa Wonokerto Peri bertemu kak Andra yang lagi duduk asyik didepan rumahnya. “pagi kak Andra,” sapa Peri Devina. “pagi juga Peri,” jawab kak Andra. Peri Devina lantas menanyakan prihal motor Kakek yang hilang kepada kak Andra. “Itu Peri tadi saya menjumpai Budi sedang menuntun Sepeda motor berwarna biru didepan pasar menuju rumahnya,” lanjut kak Andra, “mungkin itu motor Kakek.” Tanpa bosa-basi Peri Devina berpamitan “terimakasih kak Andra,” jawab Peri dan langsung menuju rumah Budi yang berjarak 8 meter dari rumah kak Andra.

Belum sampai rumah Budi, baru terbang 4 meter Peri Devina berpapasan dengan Budi dipertigaan jalan yang sedang menuntun Sepeda motor biru. “mau kemana Budi,” tanya Peri Devina kepada Budi. Lantas Budi berhenti menuntun dan menjelaskan kepada Peri kecil Devina, bahwasannya ia (Budi) ingin menuju rumah Kakek untuk mengantarkan motor Kakek yang tadi subuh ketinggalan di Masjid depan pasar, selesai kakek Sholat subuh.

Lantas tanpa perbincangan panjang Peri Devina dan Budi langsung menuju rumah Kakek yang berada disamping sungai desa wonokerto untuk mengantarkan Sepeda motor.

Sesampainya didepan Rumah kakek, kekek langsung lari dari lemunannya dan memeluk Sepeda motornya, serta berterimakasih kepada peri devina, “terimakasih Peri, yang telah menemukan Sepeda motor kakek.” Peri Devina tersenyum manis dan menjelaskan kepada kakek bahwasannya Sepeda motornya itu tidak hilang, melainkan ketinggalan didepan Masjid se-waktu kakek Sholat subuh, dan juga atas kebaikan Budi lah yang patut menerima terimakasih dari kakek, kerena Budi yang menyadari akan kepikunan kakek dan berbaik hati mengantarkan Sepeda motor biru itu kepada kakek.
Sekian terimakasih....
Teruslah belajar dan berbuatlah kebaikan.

#berapa jarak dari pertigaan ke rumah kakek?

Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Senin, 22 Mei 2017

Ruang Aksara - Warkop gelok

Warkop Gelok
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Gemuruh canda mengisi ruang 3x3 m
Diatas perairan gorong-gorong
Berlantai blabak kayu, kokoh rombong berdiri.
Berjajar segala isi menu instan
Tenggap seorang lelaki menawari sajian.
Dan tak lupa menui senyuman manja.

Berjajar bangku dan kursi kayu
Kusandarkan punggung kepadanya
Ada seribu rupa masuk dan pergi
Banyak pula yang nyaman menetap
Hingga terayun merangkai cita.

Tampak diantaranya asyik muka berseri.
Ada yang menyelam dalam smartphone bersambung wifi.
Ada pula yang asyik berandai-andai kekasihnya.
Dan ada juga yang mengasah waktu dengan catur.

Waktu itu ku pesan secangkir kopi hitam
Ku pikir itu sebagai penenang rindu sesaat.
Melepas penat yang sesak dalam ilusi 
Menghanyut dengan canda dalam diskusi.
Semakin jauh kutinggalkannya
Ternyata rindu semakin nyaring.
Dan tak sanggup ku menguraikannya.
Hingga waktu menarikku hengkang
Waktu itu, di warkop Gelok.

(22.mei.2017/Jombang)

Sabtu, 13 Mei 2017

Ruang Aksara - Asap Putih

Asap Putih
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Ketika cahaya dibungkam
Dan bintang-bintang berjatuhan
Saat itu gunung-gunung terguling
Tak ada satupun yang dapat menghindar.

Ketika aku terbangun bersama asap putih.
Api-api bertebaran merobek hati
Dan kutemui dua jalan;
Ada rindu serta dusta.

Kemana aku akan pergi
Kepada rindu akan kujumpai cinta
Kepada dusta kan kutemui fana.
Namun ku tak sanggup menghendaki keduanya
Kecuali rindu itu memanggil namaku.

Ohh rindu panggil aku.
Oh rindu izinkan aku menyentuh cintamu.
Izinkan cinta itu tumbuh subur ditaman hatiku.
Hijau royo-royo...

Ohh rindu jangan tinggalkan aku.
Sungguh ketir jiwaku tanpa kasihmu
Seonggok badan yang penuh luka
Tak apalah raga ini hangus terbakar derita.
Asal rindu hidup didalam hatiku
Bersama Indonesia dan dwiwarna diatasnya.
(13.05.2017/Jombang)

Jumat, 12 Mei 2017

Ruang Aksara - Seperti itukah Petahana

Seperti itukah Petahana?
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Disana suap menyuap
Disini kelaparan menjalar
Wajah sendu dibalik tabir modern
Terjerat kemiskinan, oleh tirani.

Hanya sekedar bertahan hidup
Karena bunuh diripun segan oleh yang Maha Menghidupkan.

Menjalani, satapak demi setapak;
Diantara kolong jembatan
Didalam pasar-pasar tradisional
Dipinggiran terminal kota
Sesekali ditrotoar merangkai lelap.

Tak ada kiasan elok untuk kemiskinan.
Yang sering kali dicemooh kumuh.
Yang sering kali menjadi korban penggusuran.

Mereka sudah lemah
Kenapa kau aniaya?
Mereka tak berdaya
Mengapa kau perdaya?

Seolah kau dewa,
Kau sebut mereka hina sebagai pengemis?
Dan kau berjaya dengan hasil korupsi.
"Tak tau malu !!!"
Seperti itukah petahana.
Serakah, bengis, gelap, dan dengki.
Sungguh naif, kau lebih miskin dari pada pengemis.

(13.05.2017/Jombang)

Ruang Aksara - Ku simpan Rindu

Ku simpan Rindu
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Hari itu ku memandang dunia
Berjalan diantara siang dan malam.
Diantara waktu ku memilih sepi.
Menerjang keramaian diantara terjalnya khayal.
Tak jarang gelap menyapu langkahku.
Hingga duka, mempertemukan kita.

Saat itu cahaya menyambutku.
Dengan kehangatan menemani sepiku.
Kau basuh letihku oleh senyummu.
Kusimpan senyum itu hingga menjadi rindu.
Ku simpan rindu itu hingga menyimpul cinta.

Hingga saat ini
Hanya kau yang berhak atas rinduku
Karena cinta ini berlabuh kepadamu
Tak ada yang bisa ku hindari darimu
Dan tak jarang ku takjub oleh senyummu.

Sering ku melawan,
Dan sering ku terjungkal menatapmu.
Adakah secuil rinduku berlabuh?
Ku tak berani berharap,
karena cinta itu besar jiwanya.
Dan merindu perih pengorbanannya.

(02.05.2017.Jombang)

Jumat, 05 Mei 2017

Refleksi Tragedi mei 1998

Refleksi Tragedi mei 1998

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA,(Bung Karno).

Jasmerah, Kerusuhan Mei 1998 bukan hanya kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta.

Kerusuhan mei 1998 diawali oleh sifat kritis elemen Masyarakat yang dipicu oleh elemen Mahasiswa atas kepemimpinan rezim Orba (Soeharto). Keberadaan saat itu memuncak saat krisis finansial Indonesia.

Kilas balik, Tragedi mei 1998 bukan sekedar perlawanan bosa-basi atas keadaan rezim saat itu, melainkan bentuk perlawanan mutlak atas tirani yang membelenggu kemerdekaan Rakyat Indonesia.

Perlawanan Mei 1998 itu dipicu oleh Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat pro-demokrasi pada akhir dasawarsa 1990-an. Dan puncaknya adalah tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998, Dan penurunan jabatan Presiden Soeharto.

Gerakan ini menjadi monumental karena dianggap berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada tangal 21 Mei 1998, setelah 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia sejak dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 hingga tahun 1998.

krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 adalah awal momental Gerakan Mahasiswa membuat perlawanan-perlawanan terhadap tirani Orba. Namun para analis asing kerap menyoroti percepatan gerakan pro-demokrasi pasca Peristiwa 27 Juli 1996 yang terjadi 27 Juli 1996. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa di seluruh daerah di Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Hampir semua elemen Mahasiswa meluap menjadi banjir deras gerakan yang tak dapat dibendung oleh tirani Orba, dan tak sedikit korban yang luka-luka serta mati karena perlawanan, dan naasnya banyak dari perlawanan itu terjadi penculikan yang tak sedikit Mahasiswa dan elemen masyarakat yang ditangkap tanpa surat penangkapan (penculikan) hingga kini tak diketahui keberadaannya. "Melawan mati, tak melawan mati, mending mati dalam perlawanan lebih mulia dari pada terhina mati tanpa perlawanan," komentar Bung Adian Napitulu (penggagas forkot) saat berkomentar tentang aksi mei 1998 di acara Mata Najwa 14 mei 2014.

Ibarat banjir bandang dalam perlawanan yang tanpa henti bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Demonstrasi bertambah gencar dilaksanakan oleh para mahasiswa, dengan tuntutan :
1.Adili Soeharto dan kroni-kroninya,
2.Laksanakan amandemen UUD 1945,
3.Hapuskan Dwi Fungsi ABRI,
4.Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya,
5.Tegakkan supremasi hukum,
6.Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN

Dari tuntutan tersebut, menjadi langkah awal Reformasi; Sebagai bakti atas Tragedi Mei 1998 yang melawan tirani Orba, sebagai estafet Kemerdekaan 1945, ada baiknya kita melawan lupa sebagai Mahasiswa generasi digital, membangun terus sifat kritis akan penindasan-penindasan disekitar kita. Bangun Mahasiswa Indonesia, bangun tanggung jawab atas amper (amanat penderitaan rakyat), bangun dan lawan cukong-cukong kapitalisme serta lawan para perusak Ideologi Bangsa Indonesia. Karena selama penindasan masih tumbuh diatas bumi pertiwi selama itu perjuangan kita belum selesai...

(06-mei-2017)
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh