Jumat, 05 Mei 2017

Refleksi Tragedi mei 1998

Refleksi Tragedi mei 1998

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA,(Bung Karno).

Jasmerah, Kerusuhan Mei 1998 bukan hanya kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta.

Kerusuhan mei 1998 diawali oleh sifat kritis elemen Masyarakat yang dipicu oleh elemen Mahasiswa atas kepemimpinan rezim Orba (Soeharto). Keberadaan saat itu memuncak saat krisis finansial Indonesia.

Kilas balik, Tragedi mei 1998 bukan sekedar perlawanan bosa-basi atas keadaan rezim saat itu, melainkan bentuk perlawanan mutlak atas tirani yang membelenggu kemerdekaan Rakyat Indonesia.

Perlawanan Mei 1998 itu dipicu oleh Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat pro-demokrasi pada akhir dasawarsa 1990-an. Dan puncaknya adalah tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998, Dan penurunan jabatan Presiden Soeharto.

Gerakan ini menjadi monumental karena dianggap berhasil memaksa Soeharto berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia pada tangal 21 Mei 1998, setelah 32 tahun menjadi Presiden Republik Indonesia sejak dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tanggal 11 Maret 1966 hingga tahun 1998.

krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 adalah awal momental Gerakan Mahasiswa membuat perlawanan-perlawanan terhadap tirani Orba. Namun para analis asing kerap menyoroti percepatan gerakan pro-demokrasi pasca Peristiwa 27 Juli 1996 yang terjadi 27 Juli 1996. Harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa di seluruh daerah di Indonesia, bukan hanya di Jakarta. Hampir semua elemen Mahasiswa meluap menjadi banjir deras gerakan yang tak dapat dibendung oleh tirani Orba, dan tak sedikit korban yang luka-luka serta mati karena perlawanan, dan naasnya banyak dari perlawanan itu terjadi penculikan yang tak sedikit Mahasiswa dan elemen masyarakat yang ditangkap tanpa surat penangkapan (penculikan) hingga kini tak diketahui keberadaannya. "Melawan mati, tak melawan mati, mending mati dalam perlawanan lebih mulia dari pada terhina mati tanpa perlawanan," komentar Bung Adian Napitulu (penggagas forkot) saat berkomentar tentang aksi mei 1998 di acara Mata Najwa 14 mei 2014.

Ibarat banjir bandang dalam perlawanan yang tanpa henti bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda reformasi mendapat simpati dan dukungan dari rakyat. Demonstrasi bertambah gencar dilaksanakan oleh para mahasiswa, dengan tuntutan :
1.Adili Soeharto dan kroni-kroninya,
2.Laksanakan amandemen UUD 1945,
3.Hapuskan Dwi Fungsi ABRI,
4.Pelaksanaan otonomi daerah yang seluas-luasnya,
5.Tegakkan supremasi hukum,
6.Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN

Dari tuntutan tersebut, menjadi langkah awal Reformasi; Sebagai bakti atas Tragedi Mei 1998 yang melawan tirani Orba, sebagai estafet Kemerdekaan 1945, ada baiknya kita melawan lupa sebagai Mahasiswa generasi digital, membangun terus sifat kritis akan penindasan-penindasan disekitar kita. Bangun Mahasiswa Indonesia, bangun tanggung jawab atas amper (amanat penderitaan rakyat), bangun dan lawan cukong-cukong kapitalisme serta lawan para perusak Ideologi Bangsa Indonesia. Karena selama penindasan masih tumbuh diatas bumi pertiwi selama itu perjuangan kita belum selesai...

(06-mei-2017)
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar