Menatap bahagia.
Oleh: pujangga gila
Hujan batu menerpa raga.
Oleh: pujangga gila
Hujan batu menerpa raga.
Nafas sesak melukai jiwa.
Menatap wajah muram durjana.
Tak berkutik ku dibuatnya.
Biarlah pukulan itu menempeleng kepalaku.
Agar aku dapat memahami kerasnya hatimu.
Semua agar batinku terlatih.
Semua mengantarkan jiwa raga ini menuju sabar.
Biarlah, angin bersorak ramai menertawai jiwaku.
Entah itu benar, aku hanya ingin kau bernafas senyum.
Bernada gembira, berkelip bintang diangkasa.
Emosi membeku, mencacimaki mukaku.
Aku tetap menatapmu dengan bahagia.
Mengurung diri dalam batin.
Karena aku mempunyai hati.
Tak berkutik ku dibuatnya.
Biarlah pukulan itu menempeleng kepalaku.
Agar aku dapat memahami kerasnya hatimu.
Semua agar batinku terlatih.
Semua mengantarkan jiwa raga ini menuju sabar.
Biarlah, angin bersorak ramai menertawai jiwaku.
Entah itu benar, aku hanya ingin kau bernafas senyum.
Bernada gembira, berkelip bintang diangkasa.
Emosi membeku, mencacimaki mukaku.
Aku tetap menatapmu dengan bahagia.
Mengurung diri dalam batin.
Karena aku mempunyai hati.
Hati ini menyimpan cinta.
Dan aku merasa bahagia, oleh cintamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar