Sabtu, 22 Agustus 2015

Ruang Aksara - Memandang bulan ku merindu.

Memandang bulan ku merindu.
Oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Bukan dari mana datangnya?
Aku lebih suka menjemputnya.
Memperjuangkan rasa saat menjaga rindu.
Tegar menjalani masa gulita.
Setia meski bulan acuh padaku.
Bulan tetaplah bersama rinduku.

Malam dan rintikan hujan.
Malam tanpa sinar rembulan.
Rembulan masih ada ditempatnya.
Seperti aku dan rindu.
Senyumnya berada ditempat yang sama.
Berbungah, sepajang nyawaku.

Seolah-olah aku gila.
Tergila-gila dalam tawa.
Tertawa dalam rindu.
Saat ku memandang bulan diangkasa.
Imajiku melayang, terbang ketinggian angkasa.

Pandangku pada bulan.
Pantulan senyum bersayap kehidupan.
Membuat spirit laju menggebu.
Se akan tak ada hal mustahil didepanku.

Aku masih berada ditempat yang sama.
Jangan pergi bulanku.
Aku takut malamku gelap.
Aku takut tersandung tanpamu.
Yakinkan aku untuk menyimpan senyummu itu.
Agar aku mampu menerangi gelapku.
Senyummu, ialah cahaya, laju, asah, cita-citaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar