Sabtu, 22 Agustus 2015

puisi - Tinta Merah

Tinta Merah
oleh: Giandra Gilang Panggaluh

Kau sebut aku suram.
Kau maknai aku kelam.
Cuma karena warna kulit.
Dan cuma karena jiwaku yang kritis.

Ku berlari mencari tempat sunyi.
Kau olok aku bagaikan setan.
Cuma karena politik kekuasaan generasi menjadi korban.

Ya aku baru tau... Kebenaran hanya milik tuan.
mungkin yang lainnya numpang.

Aku masih menyepi dalam lorong kesunyian.
Karena diluar aku dibuli oleh tuan.

Aku takut adanya penerangan.
Aku bagian dari yang terbuang.
Tinta merah yang bernasib sial.

Ide siapa?
Siapa yang sebenarnya membunuh hak kemanusiaan.
Siapa yang sebenarnya monopoli kemiskinan.
Siapa yang sebenarnya tidak berTuhan.
Siapa yang sebenarnya mengeksploitasi alam.

Realitas ini ide siapa?
yang sebenarnya menghakimi sejarah kemanusiaan.

Aku takut, sampai bernafaspun aku tak sanggup.
Sesak terhakimi bayang-bayang neolib.
Dimana Kapitalisme terlahir seolah kebenaran.
Abad perbudakan telah dimulai.
Hingga tak mengenal arti kawan.
karena keserahakan menjadi mata pencaharian.

Hiraukan aku, karena aku adalah malam yang kau sebut kelam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar