Sabtu, 22 Agustus 2015

refleksi

refleksi sajalah

"If I go into myself", "kalau saya masuki diri saya sendiri", kata Hume, maka saya jumpai "bundles of conceptions",lebih tepatnya gambaran absut gulung-gulung pengertian, bermacam-macam gambaran dari pada benda. lantas, saya bisa ketahui dengan pancaindera saya tentang suatu benda, tetapi "Ding an Sich" benda sendirinya, saya tidak bisa ketahui???
tonjolan pemikiran hume tentang "ide" itu sendiri mengurung dirinya dalam gelapnya gua, seperti gambaran plato, "Pertama-tama kita bayangkan sekelompok orang yang ditawan sejak lahir. Orang-orang ini sejak kecil dirantai dalam gua. Tangan, kepala, dan kaki mereka diikat secara ketat, sedemikian hingga seumur hidup cuma bisa menatap dinding di depan mereka.Di belakang mereka terdapat api unggun besar. Apabila ada orang atau binatang lewat, maka bayangannya akan terpantul ke dinding di depan para tawanan. Setiap kali orang atau binatang itu bersuara, suaranya akan bergema sampai ke telinga para tawanan. Karena seumur hidup cuma melihat pantulan di dinding, para tawanan mengira bayangan dan gema itu sebagai kenyataan sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa semua itu sekadar pantulan dari benda di belakang mereka." dari sudup pandang plato saya dapt menangkap, titik perumpamaan, tentang manusia ynag menyangka kenyataan berdasarkan apa yang mereka persepsi. Dalam hal ini, tawanan yang seumur hidup menatap dinding akan terdorong menganggap bayang-bayang dan suara gema sebagai sebentuk realitas.

Kalau Hume hendak mengetahui apakah benda yang bernama buah jeruk itu umpamanya, maka yang ia insyafi cuma rasanya yang manis, kulitnya yang licin, beratnya yang 1/2 atau ¼ kilo, warnanya yang hijau atau kuning, bunyinya yang nyaring atau lembek. Bunyi itu ada di telinga, dalam badan Hume, bukan pada jeruk, beratnya di tangan Hume, bukan pada jeruk, rupanya pada mata, rasanya di lidah atau di ujung jari Hume. Semuanya bunyi, rupa dan rasa dengan perantaraan saraf, nerve, berjalan ke pusat ke centre, ke otak.

Otak mencatat bunyi, rupa dan rasa tadi menjadi pengertian, conception, seperti pengertian merdu, kuning, berat, lezat dan licin. Semua pengertian ini " dalam" saya, kata Hume, bukan di luar saya. Jeruk itu sebagai benda, tak ada bagi saya. Yang ada Cuma "ide", pikiran, pengertian, tentang benda itu dalam otak saya. Otak saya penuh dengan pengertian "bundles of conceptions" kata Hume. Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, tak ada buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, gambaran dari jeruk, lembu, bumi, bintang dan engkau. "Engkau" kata Hume, cuma "ide" buat saya.

Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku ide saja, membatalkan adanya dirinya sendiri, mengakui bahwa sebetulnya dia sendiri tak ada. Beginilah akibatnya yang konsekwen dari Idealisme, dengan membatalkan adanya benda, ia membatalkan dirinya sendiri.

Demikianlah David Hume dengan memisahkan ide dari benda, abstraction dan menganggap ide yang pertama, dalam menentang benda sebagai dasar yang pertama, tewas dalam tentangannya membatalkan adanya diri sendiri. Dengan begitu ia sebetulnya membatalkan filsafat idealisme itu.
hhhehehe cukup mencengangkan otak kanan saya, tentang perumpamaan "ide" yang di gagas oleh seorang hume, disini saya cukup terkesan dengan konsistennya beliau dalam berpikir dan bertindak, setidaknya beliau berani bertanggung jawab atas apa yang beliau gagas. "satu tindakan, satunya pikiran dan perbuatan."
(15juli2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar