Jumat, 13 November 2015

cogito ergo sum_medsos ruang berkarya

    
       
       Banyak replika kehidupan, dan seharusnya kita dapat mengaca dari penggalan kehidupan sejarah, dan belajar dari replika kehidupan (biografi) para Tokoh-tokoh yang dapat menjadi contoh untuk melalui jalan berdebu ini. Yaitu suatu kondisi yang pasif berdiam diri di depan gedjet atau komputer, yang cuma hanya merasa puas mengkonsumsi medsos ataupun game online.

       Disini saya tidak bermaksud melarang, mereka sekalian, ataupun mengusik aktifitas harian mereka yang hanya nongol dimedsos tanpa tau, apa yang mereka pikirkan? kesibukan-kesibukan semu menjerat Pemuda Bangsa yang tidak siap melewati moderensnisasi, kegunaan yang menurut logika ngawur, berkata "medsos adalah media komunikasi," sedangkan anda tak menyentuh apapun (berkomunikasi) dengam keluarga, kerabat, dan teman disamping mereka.

       Jalanan berdebu, membutakan mereka sekalian untuk jauh menepi menjadikan seorang yang pasif dialam nyata. dan apakah itu yang anda pikirkan? 

       Saya berpikir, maka saya ada? pernyataan descartes "I think, therefore I exist." Memicu ide saya untuk bertanya-tanya kepada benda yang diam disekeliling saya. "wahai batu apakah kamu ada, dan apakah kamu berpikir?" batu hanya diam, dan seolah acuh pada pertanyaan saya. "kenapa harus berpikir, untuk (aku) menjadi ada, dan adakah ketiadaan dibalik benda yang tidak berpikir?" keberadaan yang seperti apa, yang memicunya bersabda bahwa rasional menjadi identitas keberadaan.

       Saya memandang langit, dan apakah langit tidak ada? sejauh ide saya berpikir tentang keberadaan langit, sejauh itu keberadaan langit. Sedalam saya berpikir tentang lautan, sedalam pemikiran itu lah dalamnya lautan. semakin saya menyelami ide-ide yang mengombak dalam alam rasio, membawa alam sadar saya hanyut dimakan kejenuhan, samakin saya acuh terhadap kondisi pola pikir yang lusuh, dan berdebu.

       Pagi sekedar pagi, mentari menjadi hiasan insan yang hanya sibuk oleh status medsos. Yang ada hanya status dalam media sosial, yang membuat anak muda-mudi sok sibuk menyapa kehampaan ruang. Meluangkan waktu hanya sekedar mengkonsumsi medsos, mungkin muda-mudi lupa tentang keberadaanya, ruang hidupnya, dan keluarganya.

       Saya geli dengan pemandangan medsos, yang hanya sekedar serch perut kembung dan mencret. tanpa ada sapaan karya, atau berita lingkup sosial, piciknya ada sebuah berita yang berisi hasutan, dan bodohnya banyak yang tersumut kemarahan. Tergelincir terlalu dalam untuk menganggap medsos adalah media kebenaran.

       Setidaknya pemuda, atau pengguna medsos faham, tentang kegunaan. tentang apa yang ia gunakan serta apa manfaatnya. Ada baiknya ruang itu menjadi tempat untuk Berkarya, meluangkan ide-ide yang sebelumnya menjadi batas dialam nyata. Serta setidaknya mereka membuka ruang-ruang karya, dan menjadikan medsos sebagai penyalur komunikasi tentang karyanya.

      Dunia ini begitu semu, bila kita hanya diam tanpa tau, tentang apa yang kita pikirkan? hingga tidak ada jalan yang terang, karena ide-ide sudah mati tenggelam didasar lautan apatis gelap tanpa penerangan, yang menganggap dunia hanya sekedar barang yang mati. Dan yang menganggap alam ini mati, maka ia tidak berpikir kalau dia pun mati. Mati karena dia tidak siap menatap zaman, dan tersingkir oleh nyanyian para intelektul modern. "Melek zaman, melek belajar dan berkarya."

(Jombang.14.November 2015.Barokah hilmi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar